Tampilkan postingan dengan label kopi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kopi. Tampilkan semua postingan

Selasa, 18 Desember 2018

Rindu; lagi.


Hati ini masih hati yang sama dengan 6 tahun yang lalu, bahkan sejak aku terlahir.
Pembeda terletak pada rasa yang menyelimutinya, rasa yang berperan atas penyaring darah untuk kemudian dialirkan.

Beberapa malam wajahmu kembali singgahi mimpi, hanya sebagai bunga tidur.
Menyulut lagi lilin yang beberapa tahun sudah padam.
Iya, aku yang memadamkan.

Terlalu berlebihan kalau harus menggunakan Fire Hydrant, mengingat api yang berkobar hanya sebesar kuku jari.
Kobaran yang jauh lebih kecil dari saat kebersamaan kita.

Oh... Aku hanya sekedar menegur, tidak untuk menggandeng.
Bertemu di perempatan bukan sebuah kesengajaan, kan?

Bolehlah sesekali kita merasa ingin kembali bertemu satu sama lain, rasa yang wajar sebagai orang yang pernah berjalan berdampingan.
Kamu tahu? Aku malu kalau harus mengakui bahwa aku.... Rindu; lagi.

Senin, 20 Juni 2016

BERGURU pada SECANGKIR KOPI dan SEBATANG ROKOK

https://hariantoblok.blogspot.com/2016/06/kilat-cahaya-harapan.html
Hariku tak akan pernah jauh dari secangkir kopi dan sebatang rokok, bukan seperti orang kebanyakan yang membuang waktunya untuk minum kopi dan rokok tanpa ada arti kenikmatan, aku melakukannya lebih kepada memaknai kehidupan. Bisa di katakana kalau secangkir kopi dan batang-batang rokok adalah guru bagi kehidupanku, senantiasa mengajarkanku melihat sebuah persoalan dari berbagai macam sudut.  Karena bagiku kehidupan yang lempeng tanpa ada tikungan justru kehidupan yang membosankan.
Mulai dari secangkir kopi, aku memahami perbedaan. Bahkan aku lebih menyadari bahwa kopi yang nikmat terdiri dari berbagai material yang berbeda. Seperti itulah hidup, berbedaan bukan berarti tak dapat menyatu, justru yang berbeda saling berdampingan, saling melengkapi untuk mencapai sebuah rasa yang tak tertandingi. Rasa pahit yang menjadi cirikhas kopi menunjukkan pahitnya kehidupan, semakin pahit sebuah kopi akan semakin nikmat. Berbagai macam ujian dan cobaan yang datang di kehidupan akan membuat hidupmu lebih nikmat, kenapa? Banyak ahli agama yang mengatakan bahwa ujian dan cobaan adalah tanda Tuhan menyayani hambaNya, dari ujian dan cobaan itu akan dapat di ambil hikmah dan pelajaran yang berarti, setelah ujian itu berakhir, Tuhan menyiapkan hadiah yang istimewa untuk hambaNya. Disitulah kenikmatan hidup.
Kopi di pagi hari mengingatkanku bahwa hari ini tak akan berjalan sesuai apa yang ku harapkan. Akan ada sesuatu yang terasa pahit hari ini. Secara tidak langsung aku akan menyuapkan diri juga mental untuk memulai hariku setelah melangkahkan kaki keluar pintu rumah. Tak banyak yang menyadari bahwa kopi menyimpan berbagai macam pelajaran. Dan kenyataannya, mereka yang mampir ke warung untuk meminum secangkir kopi hanya sekedar menghilangkan kejenuhan di rumah, bahkan anak – anak sekarang menjadikan ngopi sebagai tradisi kekinian yang mereka gunakan untuk meng-Autis-kan diri bersama gadget yang mereka bawa. Aku pun banyak menjumpai warung kopi ramai pengunjung namun sepi suara, justru yang terdengar hanya lantunan music koplo dari si penjaga warung yang kadang juga membuat otak pelanggannya menjadi koplo.
Kemudian Rokok, anak-anak jaman sekarang masih kecil sudah pada berani pegang, bahkan menghisap lintingan tembakau itu, saat di Tanya ya jawabannya tetap sama. Ingin terlihat keren dan kekinian. Padahal mereka tahu, bahkan di setiap bungkus rokok yang beredar di Indonesia bertuliskan kalimat “Merokok Membunuhmu”, padahal mereka tak tahu bagaimana cara menikmati lintingan tembakau itu. Untuk aku pribadi, rokok bukan hanya sekedar kebutuhan, namun rokok adalah guru. Aku tetap merokok meski aku tahu bahaya merokok? Ya… tapi aku tahu dan sadar kapan waktu dan tempat yang tepat untuk aku menikmati setiap batangnya.
Bagaimana bisa aku menjadikan rokok guru bagi kehidupanku? Asap rokok tak memiliki bentuk yang pasti, berubah-ubah, sekejap akan lenyap di terpa angin. Aku melihatnya sebagai ruh dari setiap manusia, tidak ada yang tahu bentuk pasti dari ruh, kapan saja dan dimana saja, ruh itu akan di ambil Tuhan. Bahkan mungkin akan di lenyapkan seperti asap yang di terpa angina. Menurutku juga, rokok hampir sama seperti lilin. Lilin rela terbakar dan leleh habis demi menerangi ruangan yang gelap, rokok rela terbakar menjadi abu demi kenikmatan manusia serakah. Yang dapat di pelajari dari dua benda ini adalah, pengorbanan. Kita sebagai manusia harus rela berkorban demi orang-orang yang membutuhkan.
Namun kita juga harus sadar, kapan saatnya lilin itu terbakar dan kapan saatnya lilin itu padam. Mana mungkin kita menyalakan lilin di saat terang tanpa ada sebab atau alasan yang pasti?. Sadar kapan dan dimana saatnya kita menghisap rokok tanpa mengganggu orang lain. Bukan sekedar pamer bisa merokok karena ingin di anggap keren dan kekinian. Untuk rokok sendiri masih banyak makna yang aku simpan untuk diriku sendiri, karena memang rokok tidak baik untuk kesehatan jika tak mampu memaknai secara mendalam, dan aku tidak merekomendasikan rokok ataupun mengajarkan kalian para pembaca untuk merokok. Pemaknaan itu aku simpan karena aku pribadi takut banyak pembaca yang menyalahgunakan alasan dariku untuk bebas merokok.

Aku menjadikan rokok dan kopi sebagai guru  karena kebiasaanku ngopi dengan orang yang lebih tua dan lebih bijak dariku. Ketika ngopi aku banyak bertanya pada mereka yang lebih tua tentang berbagai macam hal dan ilmu. Ibarat dinamit yang meledak dengan satu pemicu, aku hanya menanyakan sebuah pertanyaan dan mereka berceloteh panjang lebar sehingga banyak pelajaran yang aku dapat dari orang-orang itu. Entah dari pengalaman mereka, entah dari apa yang mereka ketahui, yang pasti mereka membagikan ilmu kepadaku secara Cuma-Cuma dengan jumlah banyak. Itulah caraku berguru pada secangkir kopi dan sebatang rokok.

Jumat, 17 April 2015

Inspirasi Seni
Sunyi...
tak hanya satu, namun beberapa kesunyian mengalun membelai telinga.
Saat Sunyi...
hela nafas panjang menyesakkan dada, menjanjikan kebebasan.
ya... sunyi...
didalam lingkaran forum diskusi, tetap terdiam.
tentu saja... sunyi..
yang menuntut kreasi.
dan juga sunyi...
dalam keramaian imaji..

Rabu, 04 Maret 2015

Goresan Cahaya

GORESAN CAHAYA
#masa SMA
“hari masih begitu pagi untuk mendapatkan jam pelajaran kosong, haaah (menghela nafas)…. Membosankan”  gerutu seorang pelajar, dia adalah Randy, siswa SMA di kota Surabaya. Jika jam pelajaran kosong seperti ini, dia lebih banyak menghabiskan waktunya untuk menggambar, buku pelajarannya pun menjadi medi yang tepat untuk menampung semua inspirasi yang mengalir dalam benaknya, “ bagus juga hasil karyamu” kata seorang temannya yang bernama Budi. Randy hanya tersenyum dan melanjutkan gambarnya.
#setelah LULUS
            Putung-putung rokok berceceran, ampas kopi pun tumpah di mana-mana, terlihat Randy sedang duduk lesu di sebuah kursi dengan memandang gambar yang ia buat, “apa yang kurang? Kenapa aku merasa masih ada yang kurang dari setiap gambar yang aku buat?” rasa penasaran selalu menghantu Randy setiap ia memandang gambar buatannya, hingga rasa penasaran itu berubah menjadi ketakutan. Telepon genggam Randy berdering, dan ia segera mengambilnya, “halo, siapa?”, “Saya Lukman, bisa bicara dengan Randy?”,” Lukman siapa? Iya saya sendiri,”, Randy? Aku Lukman temen satu kelasmu dulu, begini Ran, aku mau adakan Reuni SMA angkatan kita, luangkanlah sedikit waktumu untuk ikut berkumpul”,”oh, Lukman, iya luk, aku pasti datang, kapan dan dimana acaranya…?” perbincangan Randy dengan Lukman berlanjut di telepon.
            Waktu Reuni pun tiba, Randy berangkat dengan mengendarai motor kesayangannya, sesampainya di lokasi, hanya ada beberapa temannya termasuk Budi dan Lukman, kerinduan akan teman SMA mereka lepaskan saat itu juga, dengan berbagai materi perbincangan terus berlanjut hingga akhirnya Randy menceritakan ketakutannya untuk menggambar, Lukman yang bekerja sebagai sikolog, Budi yang mendalami seni teaternya, Diki yang menjadi guru, dan Heri yang bekerja di kepolisian memberikan sarannya masing-masing,  berbagai saran dari teman-temannya menjadi bahan renungannya kali ini, hingga ia memutuskan untuk mengenal lebih jauh tentang seni menggambar. Sepulang dari reuni itu, Randy melihat seniman lukis pensil jalanan, ia terpukau melihat hasil karya seniman itu, Randy meminta seniman itu untuk melukis di depannya, setelah selesai, Randy mencoba memahami apa yang berbeda dari gambar yang ia buat. Randy masih belum memahami apa yang kurang, sampai ia mencari di internet tentang seni lukis.
            Tetap tak memahami apa yang salah dengan gambarnya, Randy semakin putus asa hingga ia melempar semua gambar yang ada di kamarnya, begitu berserakan, lusuh, bahkan ada yang tersulut nyala rokok yang Randy nyalakan, teriakan Randy membuat Orang tuanya khawatir, hingga mereka datang ke kamar Randy, “ ada apa nak? Kok kamar kamu penuh dengan hasil gambarmu?”,” apa kau bermasalah? Sesekali bercerita lah kepada ayah atau ibu nak, mungkin kami bisa membantu,” Tanya kedua orang tua Randy. Randy menceritakan apa yang sebenarnya ia alami, matanya berkaca-kaca seakan air yang berada di dalam bola matanya memaksa untuk keluar, “menangislah nak, mungkin kau sudah dewasa, namun bagi kami, kau tetaplah anak kecil yang harus kami perhatikan, di sayang, dan di beri semangat.” Kata ibu Randy, “ya… benar kata ibumu nak, karena semua masalah tak akan ada jalan keluarnya jika kamu hanya memikirkan masalah itu, cobalah untuk memikirkan solusi dari masalahmu” tambah ayah Randy, “lalu apa yang harus Randy lakukan, Randy buta Yah, Bu, Randy kehilangan arah”, “mungkin ayah dan ibu tak bisa memecahkan masalahmu, tapi kami bisa membantu mencari jalan keluarnya”,” cobalah bertanya, jangan lupakan pepatah lama nak, MALU BERTANYA SESAT DI JALAN, kami tak memiliki bakat sepertimu, jadi kami tak tahu apa yang harus kamu lakukan untuk gambarmu, tapi kami tahu apa yang harus kamu lakukan untuk menemukan jawaban dari segala masalahmu.” Randy bingung dengan perkataan kedua orang tuanya, wajar saja, kedua orang tua Randy adalah orang yang berkecimpung di dunia sastra, “belajarlah dari wanita, mereka berfikir tidak hanya dengan otak, namun juga dengan hati, seperti ibumu” tambah ayah Randy, “hari sudah larut, beristirahatlah, dan renungkan apa yang telah kami katakana. Kami selalu mendukung apa yang baik yang akan kamu lakukan nak, karena kami sayang padamu” kedua orang tua Randy pun meninggalkan Randy sendirian di kamar.
            Randy terus berfikir tentang apa yang telah di katakana kedua orang tuanya, secangkir kopi dan sebungkus rokok  masih setia menemaninya melewati malam sambil memkirkan perkataan ibunya, kemudian ia membuka laptop dan mencari di web tentang seni lukis, saat meneguk kopinya, ia tersentak dan menyadari sesuatu, “ya… aku tak akan mengerti perkataan mereka jika aku berfikir hanya menggunakan otakku, aku harus berfikir dengan perasaanku juga, seperti halnya wanita.”. Randy menulis apa yang telah di katakana kedua orang tuanya, ia mencoba memahami satu demi satu kalimat yang ia tulis, perlahan Randy mulai menyadari arti dari setiap kalimat.
“mungkin ayah dan ibu tak bisa memecahkan masalahmu, tapi kami bisa membantu mencari jalan keluarnya, cobalah bertanya, jangan lupakan pepatah lama nak, MALU BERTANYA SESAT DI JALAN, kami tak memiliki bakat sepertimu, jadi kami tak tahu apa yang harus kamu lakukan untuk gambarmu, tapi kami tahu apa yang harus kamu lakukan untuk menemukan jawaban dari segala masalahmu.”.
” beratri aku harus mencari orang yang lebih berpengalaman di bidang seni lukis juga, dan aku harus menanyakan masalahku pada orang tersebut, yah, aku akan mulai mencari.”
            Ke esokan harinya Randy kembali menemui pelukis jalanan yang pernah ia temui, ia membawa beberapa hasil gambarannya dan bertanya apa yang kurang dari gambarnya tersebut, si pelukis jalanan memberikan sedikit ilmu yang ia miliki dengan senang hati.
“mas, sibuk gak?”, Tanya Randy pada pelukis jalanan itu, “ Alhamdulillah sudah agak santai bli” pelukis itu menjawab dengan logat balinya yang masih kental, “begini mas, saya kan juga suka gambar, tapi menurut saya, gambar saya itu masih ada yang kurang, saya belum menemukan kepuasan saat melihat gambar yang saya buat”, “oh itu, coba saya lihat gambar bli” kata pelukis itu sembari melihat hasil gambaran Randy, “ kalo menurut saya, gambar bli ini sudah bagus, tapi efek bayangannya masih belum sepadan dengan medianya” tambah pelukis itu, “ lalu apa lagi mas?” Randy kembali bertanya, “ menurut saya Cuma itu bli, mohon maaf tidak bisa kasih ilmu banyak, karena saya juga baru belajar” setelah berpamitan, Randy kembali mencari orang yang lebih berpengalaman lagi karena belum puas dengan jawaban si pelukis jalanan itu.
            Di perjalanan Randy melihat seorang pelukis wanita yang sudah cukup berumur, ia mengamatinya dengan penuh rasa penasaran, hingga akhirnya pelukis itu pergi. Diam-diam Randy mengikuti Wanita itu sampai ke rumahnya, Randy memberanikan diri untuk bertamu dan bertanya pada wanita itu, namun wanita itu menyuruh Randy menggambar di hadapannya, setelah Randy menyelesaikan gambarnya, wanita itu menyuruh Randy untuk datang ke rumahnya setiap sore untuk berlatih.
            Suatu sore, Randy datang ke rumah wanita itu, dan ternyata yang membukakan pintu adalah Budi, teman SMA nya dulu yang juga anak dari Wanita pelukis itu, Randy sangat terkejut, ia tak menyangka bahwa Budi adalah anak seorang seniman lukis yang menjadi gurunya, sebelum ibu Budi datang, Randy dan Budi banyak berbincang, Randy sempat menyalahkan budi dalam candaannya karena tak memberi tahu bahwa ibu Budi adalah seniman lukis. Setelah ibu Budi datang, Randy pun kembali belajar, Budi yang melihat Randy menggambar pun mengkeritik Randy, “seperti itukah gambaranmu sekarang? Dimana semangatmu? Dimana perasaanmu saat kau menorehkan pensil itu ke dalam kertas? kesenian itu tak hanya mengandalkan bakat, perasaan senimannya pun akan ikut dalam hasil karya yang ia buat, jangan terlalu sombong karena merasa bakatmu lebih menonjol dari orang lain,kamu saja tak pernah menghargai kemampuanmu sendiri, bagaimana bisa menghasilkan karya yang berharga? bakat pun perlu di kembangkan kawan” Randy mematung, tak sepatah katapun terlontar dari bibirnya, “karena itulah ibu menyuruhmu setiap sore berlatih di sini, sebenarnya ibu ingin kau menyadarinya sendiri, namun karena Budi telah memberitahumu, ibu akan memberitahu semua yang harus dimiliki seniman dalam berkarya, yang paling utama, kamu harus lebih dekat dengan Sang Pencipta, menghargai dan lebih mengenal subyek dan obyek yang akan di gunakan untuk berkarya, …………..”.
            Sepulang dari rumah Budi, Randy terus merenung, “jadi seperti itu? Hal yang sekecil itu tak pernah ku sadari karena aku merasa bahwa bakatku melebihi kemampuan orang lain, kesombongan ini membutakanku, kalau begitu, akan aku mulai semuanya dari awal, akan aku coba semua yang telah ku pelajari dari mereka yang telah ahli, namun, semua ini tak akan pernah aku temukan jika taka da campur tangan kedua orang tuaku… terimakasih Tuhan, Terima kasih Ayah, Ibu, terimakasih kawan-kawan, Seniman-seniman, dan terimakasih untuk semua yang selalu mendukungku sampai saat ini.”
#beberapa tahun kemudian
            “ini lah hasil karya Pertama Randy setelah menyadari kekurangan dalam gambarnya, dia menghadiahkan padaku saat ia akan berangkat ke paris untuk pameran lukisannya”, Sahabat Randy bercerita pada murid-muridnya. “ banyak hikmah yang bisa kalian petik dalam cerita terciptanya lukisan ini, banyak pula pelajaran yang bisa kalian contoh.”